M A K A L A H
PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
“ Perkembangan Antropologi dalam
Kaitannya
dengan Perkembangan Budaya “
Disusun oleh :
Nama : Nana Sutisna
NIM : 6520114040
(Sekolah Tinggi
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
STISIP WIDYAPURI
MANDIRI
Kompleks Gelanggang Cisaat
JL. Raya Cisaat No. 6 Telp./Fak.
0266-222867 Sukabumi
(e-mail : mandiri @ stisipwidyapuri.com
– website : www.stisipwidyapuri.com)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas ke Hadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas
tentang proses Perkembangan Antropologi dalam kaitannya dengan perkembangan
Budaya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak
mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak
tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang
Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik
konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat kepada kita sekalian.
Sukabumi, Mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KAKAT PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 2
C. Tujuan .......................................................................................................... 2
D. Manfaat ........................................................................................................ 2
BAB II. KERANGKA TEORI
A. Pengertian Antropologi ................................................................................. 3
B. Pengertian Budaya ........................................................................................ 3
C. Hubungan Antropologi dan Budaya ........................................................... 4
BAB III............................................................................... PEMBAHASAN
A. Perkembangan Antropologi ......................................................................... 6
B. Antropologi Sosial Budaya ........................................................................... 7
C. Pengaruh Budaya Dalam Perkembangan
Antropologi ............................ 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................... 10
B. Saran............................................................................................................ 10
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seorang
filsuf China; Lao Chai, pernah berkata bahwa suatu perjalanan yang bermil-mil
jauhnya dimulai dengan hanya satu langkah. Langkah manusia yang disebut filsuf
itu tak lain adalah antropologi. Benda apa yang disebut dengan Antropologi itu?
Beberapa atau bahkan banyak orang mungkin sudah pernah mendengarnya. Beberapa
orang mungkin mempunyai ide-ide tentang Antropologi yang didapat melalui
berbagai media baik media cetak maupun media elektronik. Beberapa orang lagi
bahkan mungkin sudah pernah membaca literature-literature atau tulisan-tulisan
tentang Antropologi.
Banyak orang
berpikir bahwa para ahli Antropologi adalah ilmuwan yang hanya tertarik pada
peninggalan-peninggalan masa lalu; Antroplogi bekerja menggali sisa-sisa
kehidupan masa lalu untuk mendapatkan pecahan guci-guci tua, peralatan
–peralatan dari batu dan kemudian mencoba memberi arti dari apa yang
ditemukannya itu. Pandangan yang lain mengasosiasikan Antropologi dengan teori
Evolusi dan mengenyampingkan kerja dari Sang Pencipta dalam mempelajari
kemunculan dan perkembangan mahluk manusia. Masyarakat yang mempunyai pandangan
yang sangat keras terhadap penciptaan manusia
dari sudut agama kemudian melindungi bahkan melarang anak-anak mereka
dari Antroplogi dan doktrin-doktrinnya.
Bahkan masih banyak orang awam yang berpikir kalau Antropologi itu bekerja atau
meneliti orang-orang yang aneh dan eksotis yang tinggal di daerah-daerah yang
jauh dimana mereka masih menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang bagi masyarakat
umum adalah asing.
Semua
pandangan tentang ilmu Antroplogi ini pada tingkat tertentu ada benarnya,
tetapi seperti ada cerita tentang beberapa orang buta yang ingin mengetahui
bagaimana bentuk seekor gajah dimana masing-masing orang hanya meraba
bagian-bagian tertentu saja sehingga anggapan mereka tentang bentuk gajah
itupun menjadi bermacam-macam, terjadi juga pada Antropologi. Pandangan yang
berdasarkan informasi yang sepotong-sepotong ini mengakibatkan kekurang pahaman
masyarakat awam tentang apa sebenarnya Antropologi itu. Antropologi memang
tertarik pada masa lampau. Mereka ingin tahu tentang asal-mula manusia dan
perkembangannya, dan mereka juga mempelajari masyarakat-masyarakat yang masih
sederhana (sering disebut dengan primitif). Tetapi sekarang Antropologi juga
mempelajari tingkah-laku manusia di tempat-tempat umum seperti di restaurant,
rumah-sakit dan di tempat-tempat bisnis modern lainnya. Mereka juga tertarik
dengan bentuk-bentuk pemerintahan atau negara modern yang ada sekarang ini sama
tertariknya ketika mereka mempelajari bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana
yang terjadi pada masa lampau atau masih terjadi pada masyarakat-masyarakat di
daerah yang terpencil.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada
latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah bagaimana perkembangan antropologi dalam kaitannya dengan perkembangan
budaya.
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan antropologi dalam kaitannya
dengan perkembangan budaya.
D. Manfaat
Adapun manfaat penulisan
makalah ini adalah sebagai wadah bagi kami untuk mengembangkan wawasan yang
berkaitan dengan perkembangan antropologi dalam kaitannya dengan perkembangan
budaya.
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Pengertian Antropologi
Antropologi
berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos yang
berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis
sekaligus makhluk sosial, jadi antropologi
adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari
ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat
istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu
antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada
penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan
masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik
beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Menurut William
A. Haviland,
antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi
yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh
pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Sedangkan David
Hunter memberikan
pendapatnya bahwa antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang
tidak terbatas tentang umat manusia. Selanjutnya Koentjaraningrat menyatakan
antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan
mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari
definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah
ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku,
tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu
dengan yang lainnya berbeda-beda.
B.
Pengertian Budaya
Kebudayaan didefinisikan
sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan
pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian,
kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk,
rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian
model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara
selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku
dan tindakan-tindakannya.
Kebudayaan
dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan
dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.
Sebagai
pengetahuan, kebudayaan adalah suatu satuan ide yang ada dalam kepala manusia
dan bukan suatu gejala (yang terdiri atas kelakuan dan hasil kelakuan manusia).
Sebagai satuan ide, kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai-nilai,
norma-norma yang berisikan larangan-larangan untuk melakukan suatu tindakan
dalam menghadapi suatu lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam, serta berisi
serangkaian konsep-konsep dan model-model pengetahuan mengenai berbagai
tindakan dan tingkah laku yang seharusnya diwujudkan oleh pendukungnya dalam
menghadapi suatu lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam. Jadi nilai-nilai
tersebut dalam penggunaannya adalah selektif sesuai dengan lingkungan yang
dihadapi oleh pendukungnya.
Dari
beberapa sisi, kebudayaan dapat dipandang sebagai: (1) Pengetahuan yang
diyakini kebenarannya oleh masyarakat yang memiliki kebudayaan tersebut; (2)
Kebudayaan adalah milik masyarakat manusia, bukan daerah atau tempat yang
mempunyai kebudayaan tetapi manusialah yang mempunyai kebudayaan; (3) Sebagai pengetahuan
yang diyakini kebenarannya, kebudayaan adalah pedoman menyeluruh yang mendalam
dan mendasar bagi kehidupan masyarakat yang bersangkutan; (4) Sebagai pedoman
bagi kehidupan, kebudayaan dibedakan dari kelakuan dan hasil kelakuan; karena
kelakuan itu terwujud dengan mengacu atau berpedoman pada kebudayaan yang
dipunyai oleh pelaku yang bersangkutan.
C.
Hubungan Antropologi dan Budaya
Kata Kebudayaan atau budaya adalah
kata yang sering dikaitkan dengan Antropologi. Secara pasti, Antropologi tidak
mempunyai hak eksklusif untuk menggunakan istilah ini. Seniman seperti penari
atau pelukis juga memakai istilah ini atau diasosiasikan dengan istilah ini,
bahkan pemerintah juga mempunyai departemen untuk ini. Konsep ini memang sangat
sering digunakan oleh Antropologi dan telah tersebar kemasyarakat luas bahwa
Antropologi bekerja atau meneliti apa yang sering disebut dengan kebudayaan.
Seringnya istilah ini digunakan oleh Antropologi dalam pekerjaan-pekerjaannya
bukan berarti para ahli Antropolgi mempunyai pengertian yang sama tentang
istilah tersebut. Seorang Ahli Antropologi yang mencoba mengumpulkan definisi
yang pernah dibuat mengatakan ada sekitar 160 defenisi kebudayaan yang dibuat
oleh para ahli Antropologi. Tetapi dari sekian banyak definisi tersebut ada
suatu persetujuan bersama diantara para ahli Antropologi tentang arti dari
istilah tersebut. Salah satu definisi kebudayaan dalam Antropologi dibuat
seorang ahli bernama Ralph Linton yang memberikan defenisi kebudayaan yang
berbeda dengan pengertian kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari: “Kebudayaan
adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian
tata cara hidup saja yang dianggap lebih
tinggi dan lebih diinginkan”.
Jadi, kebudayaan menunjuk pada
berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku,
kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia
yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.
Seperti semua konsep-konsep ilmiah,
konsep kebudayaan berhubungan dengan beberapa aspek “di luar sana” yang hendak
diteliti oleh seorang ilmuwan. Konsep-konsep kebudayaan yang dibuat membantu
peneliti dalam melakukan pekerjaannya sehingga ia tahu apa yang harus
dipelajari. Salah satu hal yang diperhatikan dalam penelitian Antropologi
adalah perbedaan dan persamaan mahluk manusia dengan mahluk bukan manusia
seperti simpanse atau orang-utan yang secara fisik banyak mempunyai
kesamaan-kesamaan. Bagaimana konsep kebudayaan membantu dalam membandingkan
mahluk-mahluk ini? Isu yang sangat penting disini adalah kemampuan belajar dari
berbagai mahluk hidup. Lebah melakukan aktifitasnya hari demi hari, bulan demi
bulan dan tahun demi tahun dalam bentuk yang sama. Setiap jenis lebah mempunyai
pekerjaan yang khusus dan melakukan kegiatannya secara kontinyu tanpa
memperdulikan perubahan lingkungan disekitarnya. Lebah pekerja terus sibuk
mengumpulkan madu untuk koloninya. Tingkah laku ini sudah terprogram dalam gen
mereka yang berubah secara sangat lambat dalam mengikuti perubahan lingkungan
di sekitarnya. Perubahan tingkah laku lebah akhirnya harus menunggu perubahan
dalam gen nya. Hasilnya adalah tingkah-laku lebah menjadi tidak fleksibel.
Berbeda dengan manusia, tingkah laku manusia sangat fleksibel. Hal ini terjadi
karena kemampuan yang luar biasa dari
manusia untuk belajar dari pengalamannya. Benar bahwa manusia tidak
terlalu istimewa dalam belajar karena mahluk lainnya pun ada yang mampu
belajar, tetapi kemampuan belajar dari manusia sangat luar-biasa dan hal lain
yang juga sangat penting adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan apa yang
telah dipelajari itu.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Antropologi
Seperti
halnya Sosiologi, Antropologi sebagai sebuah ilmu
juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya. Koentjaraninggrat
menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai
dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka
banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah
petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun
jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan
suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut.
Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal
dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik
perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19
perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari
sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha
untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi
tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu.
masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka
waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai
bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap
Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan
kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang
tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
Pada fase ini, negara-negara di
Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia,
Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut,
muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli,
pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta
hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa
berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk
itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa
di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan
pemerintah kolonial.
Pada fase ini, Antropologi
berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah
bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah
perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak
perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di
dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan,
kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul
semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa
untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut
berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap
bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut
menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk
pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman
Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.
Dalam
kenyataannya, Antropologi mempelajari semua mahluk manusia yang pernah hidup
pada semua waktu dan semua tempat yang ada di muka bumi ini. Mahluk manusia ini
hanyalah satu dari sekian banyak bentuk mahluk hidup yang ada di bumi ini yang
diperkirakan muncul lebih dari 4 milyar tahun yang lalu.
Antropologi
bukanlah satu satunya ilmu yang
mempelajari manusia. Ilmu-ilmu lain seperti ilmu Politik yang
mempelajari kehidupan politik manusia, ilmu Ekonomi yang mempelajari ekonomi
manusia atau ilmu Fisiologi yang mempelajari tubuh manusia dan masih banyak
lagi ilmuilmu lain, juga mempelajari manusia. Tetapi ilmu-ilmu ini tidak
mempelajari atau melihat manusia secara menyeluruh atau dalam ilmu Antropologi
disebut dengan Holistik, seperti yang dilakukan oleh Antropologi. Antropologi
berusaha untuk melihat segala aspek dari diri mahluk manusia pada semua waktu
dan di semua tempat, seperti: Apa yang secara umum dimiliki oleh semua manusia?
Dalam hal apa saja mereka itu berbeda? Mengapa mereka bertingkah-laku seperti
itu? Ini semua adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar dalam studi-studi
Antropologi.
B.
Antropologi Sosial-Budaya
Antropologi
Sosial-Budaya atau lebih sering disebut Antropologi Budaya berhubungan dengan
apa yang sering disebut dengan Etnologi. Ilmu ini mempelajari tingkah-laku
manusia, baik itu tingkah-laku individu atau tingkah laku kelompok.
Tingkah-laku yang dipelajari disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati
dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran mereka. Pada manusia,
tingkah-laku ini tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang mereka lakukan
adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya
disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan
cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan
alam dan sosial yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli
Antropologi disebut dengan kebudayaan. Kebudayaan dari kelompok-kelompok
manusia, baik itu kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar inilah yang
menjadi objek spesial dari penelitian-penelitian Antropologi Sosial Budaya.
Dalam perkembangannya Antropologi Sosial-Budaya ini memecah lagi kedalam
bentuk-bentuk spesialisasi atau pengkhususan disesuaikan dengan bidang kajian
yang dipelajari atau diteliti. Antroplogi Hukum yang mempelajari bentuk-bentuk
hukum pada kelompok-kelompok masyarakat atau Antropologi Ekonomi yang
mempelajari gejala-gejala serta bentuk-bentuk perekonomian pada
kelompok-kelompok masyarakat adalah dua contoh dari sekian banyak bentuk
spesialasi dalam Antropologi Sosial-Budaya.
Kebudayaan
yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak
diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu
ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakan oleh kebudayaan
dengan perilaku mahluk lain yang tingkah-lakunya digerakan oleh insting.
Ketika baru
dilahirkan, semua tingkah laku manusia yang baru lahir tersebut digerakkan olen
insting dan naluri. Insting atau naluri ini tidak termasuk dalam kebudayaan,
tetapi mempengaruhi kebudayaan. Contohnya adalah kebutuhan akan makan. Makan
adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk dalam kebudayaan. Tetapi bagaimana
kebutuhan itu dipenuhi; apa yang dimakan, bagaimana cara memakan adalah bagian
dari kebudayaan. Semua manusia perlu makan, tetapi kebudayaan yang berbeda dari
kelompok-kelompoknya menyebabkan manusia melakukan kegiatan dasar itu dengan
cara yang berbeda. Contohnya adalah cara makan yang berlaku sekarang. Pada masa
dulu orang makan hanya dengan menggunakan tangannya saja, langsung menyuapkan
makanan kedalam mulutnya, tetapi cara tersebut perlahan lahan berubah, manusia
mulai menggunakan alat yang sederhana dari kayu untuk menyendok dan menyuapkan
makanannya dan sekarang alat tersebut dibuat dari banyak bahan. Begitu juga
tempat dimana manusia itu makan. Dulu manusia makan disembarang tempat, tetapi
sekarang ada tempat-tempat khusus dimana makanan itu dimakan. Hal ini semua terjadi karena manusia
mempelajari atau mencontoh sesuatu yang dilakukan oleh generasi sebelumya atau
lingkungan disekitarnya yang dianggap baik dan berguna dalam hidupnya.
Sebaliknya
kelakuan yang didorong oleh insting tidak dipelajari. Semut semut yang
dikatakan bersifat sosial tidak dikatakan memiliki kebudayaan, walaupun mereka
mempunyai tingkah-laku yang teratur. Mereka membagi pekerjaannya, membuat
sarang dan mempunyai pasukan penyerbu yang semuanya dilakukan tanpa pernah
diajari atau tanpa pernah meniru dari semut yang lain. Pola kelakuan seperti
ini diwarisi secara genetis.
C. Pengaruh
Budaya Dalam Perkembangan Antropologi
Agar dapat
dikatakan sebagai suatu kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan seorang individu harus
dimiliki bersama oleh suatu kelompok manusia. Para ahli Antropologi membatasi
diri untuk berpendapat suatu kelompok mempunyai kebudayaan jika para warganya
memiliki secara bersama sejumlah pola-pola berpikir dan berkelakuan yang sama
yang didapat melalui proses belajar.
Suatu
kebudayaan dapat dirumuskan sebagai seperangkat kepercayaan, nilai-nilai dan
cara berlaku atau kebiasaan yang dipelajari dan yang dimiliki bersama oleh para
warga dari suatu kelompok masyarakat. Pengertian masyarakat sendiri dalam
Antropologi adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang
memakai suatu bahasa yang biasanya tidak dimengerti oleh penduduk tetangganya.
Dalam setiap
masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah pola-pola budaya yang
ideal dan pola-pola ini cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan
kebudayaan. Pola-pola kebudayaan yang ideal itu memuat hal-hal yang oleh
sebagian besar dari masyarakat tersebut diakui sebagai kewajiban yang harus
dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu. Pola-pola inilah yang sering disebut
dengan norma-norma, Walaupun kita semua tahu bahwa tidak semua orang dalam
kebudayaannya selalu berbuat seperti apa yang telah mereka patokkan bersama
sebagai hal yang ideal tersebut. Sebab bila para warga masyarakat selalu
mematuhi dan mengikuti norma-norma yang ada pada masyarakatnya maka tidak akan
ada apa yang disebut dengan
pembatasan-pembatasan kebudayaan. Sebagian dari pola-pola yang ideal
tersebut dalam kenyataannya berbeda dengan perilaku sebenarnya karena pola-pola
tersebut telah dikesampingkan oleh cara-cara yang dibiasakan oleh masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Antropologi adalah salah satu cabang
ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis
tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang
Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa
yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa
fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat
tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama,
antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik
beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Perkembangan antropologi
terdiri atas 4 tahap yaitu ; 1)
Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai
dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka
banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah
petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun
jurnal perjalanan.
Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi
tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu.
masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka
waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai
bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap
Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di
Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia,
Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut,
muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli,
pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta
hambatan-hambatan lain.
Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi
berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang dijajah
bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
B. Saran
Antropologi
sangat besar peranannya dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga
diharapkan kepada kita semua untuk selalu mengembangkan wawasan dan memperdalam
pemahaman tentang kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan antropologi.
DAFTAR
PUSTAKA
Green, E.C 1986 Practicing
Development Anthropology. Boulder and London: Westview
Leonard Seregar. 2002. Antorpologi
dan Konsep Kebudayaan. Universitas Cendrawasih Press. Jayapura.
Masinambow, E.K.M (Ed) 1997 Koentjaraningrat
dan Antropologi di Indonesia, Jakarta: Asosiasi Antropologi Indonesia dan
Yayasan Obor Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar