MAKALAH
ORGANISASI
DAN MANAJEMEN
“Manajemen
dan Kepemimpinan”
Tujuan
Membuat Makalah Ini Untuk Memenuhi Tugas Akhir
Mata
Kuliah
: Organisasi dan Manajemen
Dosen :
Drs. H. Sukmawijaya, M.M
Disusun Oleh :
Nama : NANA SUTISNA
NIM : 6520114040
Prodi : Ilmu Pemerintahan 5 / Sore
PROMRAM STUDI S1 ILMU PEMERINTAHAN
SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN POLITIK
STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI
2017
JL.
Raya Cisaat No. 6 Telp./Fak. 0266-222867 Kab. Sukabumi
(e-mail
: mandiri @ stisipwidyapuri.com –
website : www.stisipwidyapuri.com
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurah kepada Baginda tercinta, Nabi Muhammad SAW., kepada
keluarga dan sahabatnya, serta seluruh umat yang senantiasa taat dalam
menjalankan syariatnya.
Tak
lupa saya ucapkan terimakasih, kepada dosen
mata kuliah Organisasi dan Manajemen
atas kesabarannya dalam menyampaikan materi, serta kepada seluruh pihak
yang telah membantu mensukseskan makalah ini hingga selesai, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Makalah
ini dibuat sebagai salah satu tugas mata kuliah Organisasi dan Manajemen yang
terdiri dari kumpulan bab demi bab yang membahas mengenai definisi Manajemen dan Kepemimpinan dengan penggunaan
bahasa sesederhana mungkin. Maka dengan sistem pembahasan yang dimaksud, saya
berharap makalah ini dapat memberikan manfaat yang besar terutama bagi penulis
pribadi, dan umumnya pembaca sekalian, untuk menambah wawasan dan pengetahuan
kita semua.
Di dalam makalah ini saya akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang sangat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Sukabumi, 02 Januari 2017
Penulis, Nana Sutisna
|
DAFTAR ISI
|
|
|
KATA PENGANTAR
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
DAFTAR ISI
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . . . .
BAB I PENDAHULUAN
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . . .
A. Latar Belakang . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
.
B. Rumusan Masalah . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. .
C. Tujuan . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. .
D. Manfaat . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. .
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
A. Landasan Teori . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
.
BAB III PEMBAHASAN
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
.
A. Pengertian Manajemen Kepemimpinan
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
.
B. Ruang Lingkup Manajemen
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
.
C. Kualitas Seorang Pemimpin
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
.
D. Prinsif Pemimpin . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . . E.
Tingkat dan Keterampilan Seorang Pemimpin .
. . . . .
. . .
. . .
.
F. Prinsif dan Fungsi Manajemen
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
G. Fungsi Manajemen . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . . . .
H. Saran Manajemen . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. .
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . . . .
A. Kesimpulan . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
B. Saran . .
. . . . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
DAFTAR PUSTAKA
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
|
i
ii
1
1
3
3
3
4
4
6
6
7
8
10
12
13
17
19
21
21
22
23
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemimpin
adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya
jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai
kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa
menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif
membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin
pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara).
Kepemimpinan
adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar mau bekerjasama
untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok
yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu Mempengaruhi perilaku orang
lain. Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang
yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan
oleh orang yang memimpinnya.
Motivasi orang untuk berperilaku ada dua macam, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Dalam hal motivasi ekstrinsik perlu ada faktor di luar diri orang tersebut yang mendorongnya untuk berperi-laku tertentu. Dalam hal semacam itu kepemimpinan adalah faktor luar. Sedang motivasi intrinsik daya dorong untuk berperilaku tertentu itu berasal dari dalam diri orang itu sendiri.
Motivasi orang untuk berperilaku ada dua macam, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Dalam hal motivasi ekstrinsik perlu ada faktor di luar diri orang tersebut yang mendorongnya untuk berperi-laku tertentu. Dalam hal semacam itu kepemimpinan adalah faktor luar. Sedang motivasi intrinsik daya dorong untuk berperilaku tertentu itu berasal dari dalam diri orang itu sendiri.
Jadi
semacam ada kesadaran kemauan sendiri untuk berbuat sesuatu, misalnya
memperbaiki mutu kerjanya. kepemimpinan harus diarahkan agar orang-orang mau
berkerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi perilaku yang ditimbulkan
oleh kepemimpinan itu berupa kesediaan orang-orang untuk saling bekerjasama
mencapai tujuan organisasi yang disepakati bersama. Dalam implementasinya
kepemimpinan yang berhasil adalah yang mampu menumbuhkan kesadaran orang-orang
dalam perguruan tinggi untuk melakukan peningkatan-peningkatan mutu kinerja dan
terciptanya kerjasama dalam kelompok-kelompok untuk meningkatkan mutu kinerja
masing-masing kelompok maupun kinerja perguruan tinggi secara terpadu. Adanya kerjasama-kerjasama
kelompok merupakan salah satu kunci keberhasilan. Dalam proses tersebut
pimpinan membimbing, memberi pengarahan, mempengaruhi perasaan dan perilaku
orang lain, memfasilitasi serta menggerakkan orang lain untuk bekerja menuju
sasaran yang diingini bersama. Semua yang dilakukan pimpinan harus bisa
dipersepsikan oleh orang lain dalam organisasinya sebagai bantuan kepada
orang-orang itu untuk dapat meningkatkan mutu kinerjanya.
Dalam
hal ini usaha mempengaruhi perasaan mempunyai peran yang sangat penting.
Perasaan dan emosi orang perlu disentuh dengan tujuan untuk menumbuhkan
nilai-nilai baru, misalnya bekerja itu harus bermutu, atau memberi pelayanan
yang sebaik mungkin kepada pelanggan itu adalah suatu keharusan yang mulia, dan
lain sebagainya. Dengan nilai-nilai baru yang dimiliki itu orang akan tumbuh
kesadarannya untuk berbuat yang lebih bermutu. Dalam ilmu pendidikan ini masuk
dalam kawasan affective.
Kepemimpinan
yang merupakan faktor eksternal tadi, harus selalu dapat memotivasi anggota
organisasi perguruan tinggi untuk melakukan perbaikan-perbaikan mutu. Tetapi
kalau setiap kali dan dalam setiap hal harus memberi perintah atau pengarahan,
itu akan menimbulkan kesulitan. Kalau setiap melakukan pekerjaan dengan baik
itu harus dengan perintah pimpinan, dan kalau tidak ada perintah pimpinan tidak
dilakukan pekerjaan dengan baik, maka perbaikan mutu kinerja yang terus menerus
akan sulit diwujudkan.
Oleh
karena itu agar kepemimpinan itu selain untuk memberi pengarahan atau perintah
tentang hal-hal yang perlu ditingkatkan mutunya, juga perlu digunakan untuk
menumbuhkan motivasi intrinsik, yaitu menumbuhkan kesadaran akan perlunya
setiap orang dalam perguruan tinggi itu selalu berupaya meningkatkan mutu
kinerjanya masing-ma-sing secara individual maupun bersama-sama sebagai kelompok
ataupun sebagai organisasi.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimanakah
sebenarnya manajemen seorang pemimpin ?
2. Apa
sajakah yang harus kita ketahui dari manajemen kepemimpinan ?
3. Membahas
pentingnya sebuah manajemen bagi seorang manajer ?
C.
Batasan masalah
Makalah ini hanya membahas tentang Manajemen kepemimpinan
Makalah ini hanya membahas tentang Manajemen kepemimpinan
D.
Tujuan
Berdasarkan latar belakang masalah maka makalah ini membahas tentang
Berdasarkan latar belakang masalah maka makalah ini membahas tentang
1. Manajemen
kepemimpinan
2. Kepemimpinan
3. Manajemen
4. Pengaruh
kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam
organisasinya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Landasan Teori
Ketika
anda belajar manajemen, anda selalu teringat oleh Henry Fayol. Ia, di tahun
1916 memperkenalkan konsep manajemen yang berupa merencanakan,
mengorganisasikan, memerintahkan, dan mengawasi. Ketika ada orang bertanya
kepadanya, apa tugas dari seorang dirut? POSDCORB jawabnya. Itu adalah
kepanjangan dari planning, organizing, staffing, directing, coordinating,
reporting dan budgeting. Ia mengemukakan istilah itu di tahun 1930. Akronim
manajemen itu ringkas dan mudah diingat.
William
Stewart, (Carter-Scott, 1994) seorang alumnus the Naval Academy yang merupakan
veteran perang Vietnam ikut berpendapat tentang manajemen dengan mengatakan,
“Ada perbedaan keahlian yang dituntut di dunia militer. Ketika keadaan damai,
misalnya, anda akan sukses jika anda tahu bagaimana menerapkan manajemen. Namun
ketika perang, anda hanya akan sukses jika anda mampu memimpin. Keahlian
manajemen anda yang efektif, tidak terlalu bisa anda terapkan dalam perang.
Yang diperlukan adalah kemampuan memimpin.” Sekarang ini Steward sudah menjadi
pengacara yang sukses di Amerika Serikat.
Peter
Drucker menulis salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan:
"Konsep Korporasi" (Concept of the Corporation), diterbitkan tahun
1946. Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang
menugaskan penelitian tentang organisasi.
Berbagai
pakar mempunyai pendapat yang bermacam-macam tentang manajemen dan kepemimpinan
itu.. Satu penjelasan yang mudah dipahami adalah dari Stephen Covey.Andaikata
kita ini sedang akan membuka hutan untuk eksplorasi hasil hutan, maka seorang
pemimpin akan mengatakan, “Baik, dari berbagai informasi dan pertimbangan, saya
putuskan hutan di lereng bukit itu yang harus kita tebang dulu.” Sebagai
pemimpin ia menjelaskan bagian mana yang harus dieksplorasi.Begitu pemimpin itu
menjelaskan bagian hutan mana yang harus dibuka, maka saatnya peran manajemen
berlaku. Para manajer akan memikirkan cara-cara, alat-alat, metoda yang paling
efektif untuk membuka hutan itu. Mungkin mereka akan memakai gergaji listrik,
mungkin memakai gergaji panjang karena medannya sulit, atau bahkan mereka akan
melingkar untuk mencari celah agar mudah membuka bagian hutan itu.Bisakah
sekarang anda membedakan fungsi manajemen dan kepemimpinan? Kepemimpinan adalah
yang menentukan arah, sedangkan manajemen berusaha untuk mewujudkan agar arah
tadi bisa tercapai.
Manajemen
lebih peduli kepada pemilihan metoda, cara-cara agar tujuan itu bisa tercapai
secara efektif. Itu tadi adalah konsep manajemen dan kepemimpinan dari Covey.
Warren Bennis, pakar kepemimpinan dan manajemen terkenal, dengan cerdas
mengatakan, “Pemimpin menaklukkan situasi. Mungkin situasi itu kacau,
membingungkan, mengherankan dan bahkan menantang kita dan bisa membungkam kita
jika kita biarkan situasi itu makin memburuk. Manajer, atau manajemen? Manajer
menyerah atas keadaan itu. Manajemen berarti mengelola, sedangkan kepemimpinan,
menginovasi. Manajer adalah tiruan, sedangkan pemimpin adalah asli. Manajemen
menjaga hal-hal, pemimpin mengembangkan hal-hal.
H. Dodge, Ronald Fisher, dan Thorton C
Fry memperkenalkan teknik statistika ke dalam manajemen. Pada tahun 1940an,
Patrick Blackett mengkombinasikan teori statistika dengan teori mikroekonomi
dan lahirlah ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal dengan
"Sains Manajemen", mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan
masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Managemen Kepemimpinan
Manajemen
kita terjemahkan menjadi manajemen, dan leadership menjadi
kepemimpinan.Sebenarnya apaperbedaan “hakiki” antara manajemen dan
kepemimpinan? Silakan baca terus..Berbagai pakar mempunyai pendapat yang
bermacam-macam tentang manajemen dan kepemimpinan itu.. Satu penjelasan yang
mudah dipahami adalah dari Stephen Covey.Andaikata kita ini sedang akan membuka
hutan untuk eksplorasi hasil hutan, maka seorang pemimpin akan mengatakan,
“Baik, dari berbagai informasi dan pertimbangan, saya putuskan hutan di lereng
bukit itu yang harus kita tebang dulu.” Sebagai pemimpin ia menjelaskan bagian
mana yang harus dieksplorasi.Begitu pemimpin itu menjelaskan bagian hutan mana
yang harus dibuka, maka saatnya peran manajemen berlaku.
Manajemen
berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu
dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Manajer/Pemimpin adalah seorang
yang karena pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya diakui oleh organisasi
untuk memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan dan mengembangkan kegiatan
organisasi dalam rangka mencapai tujuan.
Para manajer akan memikirkan cara-cara,
alat-alat, metoda yang paling efektif untuk membuka hutan itu. Mungkin mereka
akan memakai gergaji listrik, mungkin memakai gergaji panjang karena medannya
sulit, atau bahkan mereka akan melingkar untuk mencari celah agar mudah membuka
bagian hutan itu.Bisakah sekarang anda membedakan fungsi manajemen dan
kepemimpinan? Kepemimpinan adalah yang menentukan arah, sedangkan manajemen
berusaha untuk mewujudkan agar arah tadi bisa tercapai
Manajemen
dan kepemimpinan, sebenarnya apa perbedaan mendasar kedua istilah itu? Dua kata
itu, manajemen dan kepemimpinan sangat sering kita dengar. Kadang kata itu
sering kita persamakan artinya. Ketika kita melihat perusahaan yang sangat
berkembang kita sering mengatakan, “manajemen di sana baik.” Kadang kita
berkata, namun kata manajemen begitu melanda dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika
anda ingin mengkritik sebuah universitas yang prestasinya buruk, anda
mengatakan "manajemen universitas itu tidak cakap." Ketika anda
bicara pengelolaan pajak yang amburadul, anda mengatakan, "manajemen pajak
di negeri kita payah." Saat ini kita memang hidup penuh dengan berondongan
istilah yang macam-macam, yang semuanya terkait dengan manajemen. Benchmarking,
balance score card, intrapreneuring, empowerment, business process
reengineering, dan istilah-istilah aneh-aneh (tapi pasti Inggris) begitu
melanda organisasi kita.Celakanya, kita sering begitu “gagah” menggunakan
kata-kata asing itu. Daripada bilang pemberdayaan, kita lebih mantap bicara
empowerment. Daripada bicara hubungan pelanggan yang akrab, kita katakan customer
intimacy, atau malah sekadar customer relationship.
Namun ada fenomena menarik, walau kita
sering mengucapkan berbagai istilah manajemen, kita malah sering tidak tahu
arti persis dari kata-kata itu. Seringkali pula istilah manajemen itu kita
dengar dari orang lain, karena terasa gagah, kata itu kemudian menjadi “kosa
kata” kita sehari-hari tanpa kita pernah tahu dari literatur mana sumber
istilah manajemen itu.Ketika kita makin berakrab-akrab dengan berbagai istilah
itu, agar “membumi” kita ganti istilah itu menjadi bahasa Indonesia.
B.
Ruang Lingkup Manajemen
Selain manajemen sebagai ilmu, manajemen
juga dianggap sebagai seni. Hal ini disebabkan oleh kepemiminan memerlukan
kharisma, stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan
antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan
tidak dapat dipelajari.
Ilmu manajemen merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan sebagai berikut :
Ilmu manajemen merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan sebagai berikut :
1. Mengetahui adanya
persoalan.
2. Mendefinisikan persoalan.
3. Mengumpulkan fakta, data dan informasi.
4. Menyusun alternatif penyelesaian.
5. Mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian.
6. Melaksanakan keputusan serta tindak lanjut.
2. Mendefinisikan persoalan.
3. Mengumpulkan fakta, data dan informasi.
4. Menyusun alternatif penyelesaian.
5. Mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian.
6. Melaksanakan keputusan serta tindak lanjut.
C.
Kualitas Seorang Pemimpin
Seorang
pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi
juga harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin
yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama,
yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin
formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metoda
kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para pemimpin karismatik ataupun pemimpin
yang menjadi simbol perjuangan rakyat, seperti Corazon Aquino, Nelson Mandela,
Abdurrahman Wahid, bahkan mungkin Mahatma Gandhi, dan masih banyak lagi menjadi
pemimpin yang tidak efektif ketika menjabat secara formal menjadi presiden. Hal
ini karena mereka tidak memiliki metoda kepemimpinan yang diperlukan untuk
mengelola mereka yang dipimpinnya.
Tidak
banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metoda kepemimpinan ini. Karena hal ini
tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal. Oleh karena itu seringkali
kami dalam berbagai kesempatan mendorong institusi formal agar memperhatikan
ketrampilan seperti ini yang kami sebut dengan softskill atau personal skill.
Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can
Leadership Be Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa kepemimpinan
(dalam hal ini metoda kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka
yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada tiga hal penting dalam metoda
kepemimpinan, yaitu:
Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas.Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju.
Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi. Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.
Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas.Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju.
Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi. Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.
Seorang
pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat responsive. Artinya dia selalu
tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan dan impian dari mereka
yang dipimpinnya. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi
dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi organisasinya. Seorang
pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang
yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk
menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan
(termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya,
dan sebagainya), melakukan kegiatan sehari-hari (monitoring dan pengendalian),
dan mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.
Tangan
Yang Melayani (Perilaku Kepemimpinan) Pemimpin sejati bukan sekedar
memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan dalam metoda
kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang
pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada empat perilaku
seorang pemimpin, yaitu: Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang
dipimpinnya, tetapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk
memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan Firman
Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa
yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya.
Pemimpin
sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan
duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal
lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi
untuk melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang
penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.
Pemimpin
sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik
pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Setiap hari
senantiasi menselaraskan (recalibrating) dirinya terhadap komitmen untuk
melayani Tuhan dan sesama. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa) dan scripture
(membaca Firman Tuhan).
Demikian kepemimpinan yang melayani
menurut Ken Blanchard yang menurut kami sangat relevan dengan situasi krisis
kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar,
penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolok
ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant
leadership).
Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik, memiliki spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.
Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik, memiliki spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.
D.
Prinsip Kepemimpina
1.
Seorang yang belajar
seumur hidup Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah.
Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar.
Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
2.
Berorientasi pada
pelayanan Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip
pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam
memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang
baik.
3.
Membawa energi yang
positifSetiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang
positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang
lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik.
Seorang pemimpin harus dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan
kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat
menunjukkan energi yang positif, seperti ;
4.
Percaya pada orang
lainSeorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga
mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena
itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
5.
Keseimbangan dalam
kehidupanSeorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi
kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga,
istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan
dunia dan akherat.
6.
Melihat kehidupan
sebagai tantangan Kata ‘tantangan’ sering di interpretasikan negatif. Dalam hal
ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala
konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan,
mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung
pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan
kebebasan.
7.
Sinergi Orang yang
berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan. Mereka
selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja
kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier
Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana
memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang
pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf, teman
sekerja.
8.
Latihan mengembangkan
diri sendiri Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk
mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada
proses. Proses daalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang
berhubungan dengan:
·
Pemahaman materi;
·
Memperluas materi
melalui belajar dan pengalaman;
·
Mengajar materi kepada
orang lain;
·
Mengaplikasikan
prinsip-prinsip;
·
Memonitoring
hasil;
·
Merefleksikan kepada
hasil;
·
Menambahkan pengetahuan
baru yang diperlukan materi;
·
Pemahaman baru;
dan
·
Kembali menjadi diri sendiri lagi.
Mencapai kepemimpinan yang berprinsip
tidaklah mudah, karena beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan buruk, misalnya:
kemauan dan keinginan sepihak; kebanggaan dan penolakan; dan ambisi pribadi.
Untuk mengatasi hal tersebut, memerlukan latihan dan pengalaman yang
terus-menerus. Latihan dan pengalaman sangat penting untuk mendapatkan
perspektif baru yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan.
Hukum
alam tidak dapat dihindari dalam proses pengembangan pribadi. Perkembangan
intelektual seseorang seringkali lebih cepat dibanding perkembangan emosinya.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencapai keseimbangan diantara
keduanya, sehingga akan menjadi faktor pengendali dalam kemampuan intelektual.
Pelatihan emosional dimulai dari belajar mendengar. Mendengarkan berarti sabar,
membuka diri, dan berkeinginan memahami orang lain. Latihan ini tidak dapat
dipaksakan. Langkah melatih pendengaran adalah bertanya, memberi alasan,
memberi penghargaan, mengancam dan mendorong. Dalam proses melatih tersebut,
seseorang memerlukan pengontrolan diri, diikuti dengan memenuhi keinginan
orang.
E.
Tingkat dan Keterampilan Seorang Pemimpin
1. Keterampilan Konseptual
Manajer
tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep,
ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Keterampilan ini sering disebut
sebagai keterampilan kosepsional (conceptional skill). Gagasan atau ide serta
konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan
untuk menciptakan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi
suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses
perencanaan. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan
keterampilan untuk membuat rencana kerja.
2. Keterampilan Komunikasi atau Kemanusiaan
Selain
kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan
berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang laion yang disebut
juga keterampilan kemanusiaan (human skill). Komunikasi yang persuasif harus
selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan
komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan
merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbutka kepada atasan.
Keterampilan kberkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas,
menengah maupun bawah.
3. Keterampilan Teknis
Keterampilan
terakhir yang merupakan bekal bagi seorang manajer adalah keterampilan teknis
(technical skill). Keterampilan ini apda umumnya merupakan bekal bagi manajer
pada tingkat yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan
untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya memperbaiki mesin, membuat
kursi, merangkai bunga dan keterampilan teknis yang lain.
F.
Prinsip dan Fungsi Manajemen
Prinsip
dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum
yang merupakan sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Prinsip merupakan
dasar, namun tidak bersifat mutlak karena prinsip bukanlah umum. Dalam
hubungannya dengan manajemen prinsip-prinsip bersifat fleksibel dalam arti
bahwa perlu di pertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan
situasi-sitauasi yang berubah.
Prinsip-prinsip umum manajemen (general principle of management) teridir dari:
Prinsip-prinsip umum manajemen (general principle of management) teridir dari:
1. Pembagian kerja
Pembagian
kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan
kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan personal harus
menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus
rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like
and dislike. Dengan adanya prinsip the right man in the right place akan
memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja.
Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja.
kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin
menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang
manajer/pemimpin yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai
prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
2. Wewenang dan Tanggung jawab
Setiap
Pengurus dalam organisasi dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan
dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan
tanggung jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan
pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil
wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.
Tanggung jawab terbesar terletak pada
manajer puncak. Kegagalan suatu program bukan terletak pada personil pelaksana,
tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewenang terbesar
adalah manajer puncak. oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai
keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.
3. Disiplin
3. Disiplin
Disiplin
merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung
jawab. Disiplin ini berhubungan erat dengan wewenang. Apabila wewenang tidak
berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang. Oleh karena ini,
pemegang wewenang harus dapat menanamkan disiplin terhadap dirinya sendiri
sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap pekerajaan sesuai dengan weweanng
yang ada padanya.
4. Kesatuan perintah
Dalam
melakasanakan program, Pengurus sebuah organisasi harus sangat memperhatikan
prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan
baik. Pengurus harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesui dengan
wewenang yang diperolehnya.
5. Kesatuan pengarahan
Dalam
melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, pengurus perlu diarahkan menuju
sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan
pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja
bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang
berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana seseorang mendapat
wewenang untuk melaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui
batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan
kesatuan pengarahan (unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan
kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
6. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
6. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
Setiap
pengurus harus mengabdikan kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi.
Hal semacam itu merupakan suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan
berjalan dengan lancar sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Setiap
pengurus dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi
apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung
kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan
pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap pengurus
merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
7. Penghargaan dan Kontraprestasi
Penghargaan
dan kontraprestasi merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran
dalam berorganisasi. Pengurus yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan
sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat
mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam hal ini
kita harus memagang prisip more pay for more prestige (upaya lebih untuk
prestasi lebih), tentu dalam rangka perlakuan adil kepada seluruh pengurus.
8. Pemusatan
Pemusatan
wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan.
Tanggung jawab terakhir terletak ada orang yang memegang wewenang tertinggi
atau manajer puncak. Pemusatan bukan berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan
wewenang, melainkan untuk menghindari kesimpangsiuran wewenang dan tanggung
jawab. Pemusatan wewenang ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang
(delegation of authority).
9. Tingkatan
Pembagian
kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup
area yang cukup luas akan menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang
terbesar yang berada pada pimpinan/manajer puncak dan seterusnya berurutan ke
bawah. dengan adanya hirarki ini, maka setiap pengurus akan mengetahui kepada
siapa ia harus bertanggung jawab dan dari siapa ia mendapat perintah.
10. Ketertiban
Ketertiban
dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak
ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam
suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh pengurus mempunyai disiplin yang
tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam
mencapai tujuan.
11. Keadilan dan Kejujuran
Keadilan
dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral pengurus dan tidak
dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari pimpinan
karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur
akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan
kejujuran pada bawahannya.
12. Stabilitas kondisi karyawan
12. Stabilitas kondisi karyawan
Dalam
setiap kegiatan kestabilan personil harus dijaga sebaik-baiknya agar segala
pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan pengurus terwujud karena adanya
disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan. Manusia sebagai
makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila
keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan
menimbulkan goncangan dalam bekerja.
13. Inisiative
Prakarsa
timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa
menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian
pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak,
perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap
prakarsa yang datang dari pengurus harus dihargai. Prakarsa (inisiatif)
mengandung arti menghargai orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh
penghargaan. Setiap penolakan terhadap prakarsa pengurus merupakan salah satu
langkah untuk menolak gairah kerja.
14. Semangat Kesatuan
Setiap
pengurus harus memiliki rasa kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggyungan
sehingga menimbulkan semangat kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan
lahir apabila setiap pengurus mempunyai kesadaran bahwa setiap pengurus berarti
bagi pengurus lain dalam sebuah organisasi.. Manajer yang memiliki kepemimpinan
akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer
yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corp
(perpecahan dalam korp) dan membawa bencana.
G.
Fungsi Manajemen
Fungsi
manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses
manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer /pemimpin dalam melaksanakan
kegiatan untuk mencapai tujuan. Manajer Mengelola fungsi-fungsi :
1. Perencanaan
Kegiatan
seorang manajer/pemimpin adalah menyusun rencana. Menyusun rencana berarti
memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Agar dapat
membuat rencana secara teratur dan logis, sebelumnya harus ada keputusan
terlebih dahulu sebagai petunjuk langkah-langkah selanjutnya.
2. Pengorganisian
Pengorganisasian
atau organizing berarti menciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang
terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antarbagian-bagian satu sama
lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut.Pengorganisasian
bertujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih
kecil. Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan
menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah
dibagi-bagi tersebut.
3. Menggerakkan
Menggerakkan
atau Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial
dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan
orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara
bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini
yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).
4. Pengawasan
Pengawasan
merupakan tindakan seorang manajer untuk menilai dan mengendalikan jalannya
suatu kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
H.
Saran Manajemen
Untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools).
Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools
tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan
markets.
1. Manajemen SDM.
Dalam
manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat
tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada
manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk
kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja
sama untuk mencapai tujuan.
2. Uang.
Uang
merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat
tukar dan alat pengukur nilai. Besar kecilnya suatu kegiatan juga bias diliat
dengan indikasi dana/uang yang diperlukan atau justru dihasilkan dalam suatu
kegiatan.
3. Bahan.
Materi
terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia
usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam
bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu
sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak
akan tercapai hasil yang dikehendaki.
4. Mesin.
Dalam
kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan. Penggunaan mesin akan membawa
kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan
efesiensi kerja.
5. Metode.
Dalam
pelaksanaan kerja diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja yang
baik akan memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode daat dinyatakan
sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai
pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan
penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan suatu program. Perlu diingat meskipun
metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak
mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian,
peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.
6. Sasaran.
Dalam
rangka suksesi suatu program maka kita harus melihat sasaran dari program
secara utuh/holistic.Perumusan Visi Organisasi : Banyak organisasi yang tidak
dirancang untuk menjalankan tugas tertentu. Nanti setelah berjalan selama
bertahun- tahun, -karena pengaruh berbagai tekanan yang kerapkali menimbulkan
konflik- barulah secara bertahap mereka mulai mendefinisikan kembali tugas-
tugasnya.. Visi akan menuntun mereka untuk mengetahui cara paling efektif untuk
mencapainya, yang biasa disebut misi. Lalu dibutuhkan strategi dan aktivitas
guna mencapai misi tersebut.
Pendekatan partisipatif mampu menguatkan visi, misi dan strategi sebuah organisasi. Semua anggota organisasi harus mengetahui visi dan misi serta sepakat dengan strategi yang akan dijalankan. Hal ini akan mewarnai kerja rutin dan meningkatkan motivasi serta kepuasan kerja mereka. Cara terbaik untuk memastikan bahwa visi dan misi menjadi milik bersama adalah melibatkan orang sebanyak mungkin dalam proses perumusannya.
Pendekatan partisipatif mampu menguatkan visi, misi dan strategi sebuah organisasi. Semua anggota organisasi harus mengetahui visi dan misi serta sepakat dengan strategi yang akan dijalankan. Hal ini akan mewarnai kerja rutin dan meningkatkan motivasi serta kepuasan kerja mereka. Cara terbaik untuk memastikan bahwa visi dan misi menjadi milik bersama adalah melibatkan orang sebanyak mungkin dalam proses perumusannya.
Perumusan visi dan misi ini diawali
dengan berdiskusi bersama pengguna pelayanan atau kelompok lain yang menerima
manfaat dari organisasi ini. Peluang melibatkan banyak orang bisa diperoleh
melalui pertemuan formal dan informal serta lokakarya dan seminar. Untuk
mencari dan mendalami isu-isu tertentu bisa dibentuk kelompok kerja. Selain itu
studi tour dan kunjungan pertukaran ke organisasi lain yang melakukan pekerjaan
serupa bisa menstimulas lahirnya ide-ide bermanfaat. Hal lain yang penting
adalah pertemuan dan diskusi dengan organisasi lain yang bekerja di wilayah
yang sama atau organisasi mitra. Dan untuk memastikan semua orang mengetahui
apa yang sedang berlangsung dan mampu memberikan konstribusi secara efektif
maka dibutuhkan sistem komunikasi internal yang baik.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Kepemimpinan
adalah yang menentukan arah, sedangkan manajemen berusaha untuk mewujudkan agar
arah tadi bisa tercapai. Manajemen lebih peduli kepada pemilihan metoda,
cara-cara agar tujuan itu bisa tercapai secara efektif. Itu tadi adalah konsep
manajemen dan kepemimpinan dari Covey. Warren Bennis, pakar kepemimpinan dan
manajemen terkenal, dengan cerdas mengatakan, “Pemimpin menaklukkan situasi.
Mungkin situasi itu kacau, membingungkan, mengherankan dan bahkan menantang
kita dan bisa membungkam kita jika kita biarkan situasi itu makin memburuk.
Manajer, atau manajemen? Manajer menyerah atas keadaan itu. Manajemen berarti
mengelola, sedangkan kepemimpinan, menginovasi. Manajer adalah tiruan,
sedangkan pemimpin adalah asli. Manajemen menjaga hal-hal, pemimpin
mengembangkan hal-hal. Manajemen berfokus pada sistem dan struktur sedangkan
kepemimpinan berfokus pada orang-orang
Kepemimpinan
merupakan suatu proses dimana sang pemimpin mampu mempengaruhi pengikutnya
untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam memimpin, tentu setiap pemimpin
mempunyai gaya kepemimpinan tersendiri yang merupakan cerminan ciri khas
kepemimpinannya.
Manajemen
berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu
dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Manajer/Pemimpin adalah seorang
yang karena pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya diakui oleh organisasi
untuk memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan dan mengembangkan kegiatan
organisasi dalam rangka mencapai tujuan.
Kemampuan
intelektualnya yang tinggi, telah membentuk gaya kepemimpinan. gagasan,
organisasi adalah hanyalah alat atau instrumen dari sebuah pemikiran yang
diusung bersama sama, dipahami, dan disepakati bersama sama. Adalah hal yang
susah mensintesiskan pribadi seseorang baik atau buruk dalam soal kepemimpinan,
tergantung paradigma berpikir seseorang. Untuk menjadi pemimpin yang benar
bukan hal yang mudah.
B.
Saran
Kepemimpinan
dikatakan sukses jika orang-orang itu kemudian bergerak, maju dan menganggap
tujuan tadi milik mereka yang harus mereka perjuangkan dan capai. Pengaruh
kepada lingkungannya, Manajemen kepemimpinen sangat berpengaruh keberadaannya,
mendorong perubahan dalam organisasi. Bisakah sekarang kita membedakan fungsi
manajemen dan kepemimpinan?” Pendapat saya sendiri? Kunci dari kepemimpinan
adalah pengaruh. Ia berbuat, bertindak, bekerja untuk mempengaruhi orang agar
mau bergerak menuju arah yang sudah dicanangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ardian Syam, Konsep Manajemen, Author, Http://www.pembelejar.com.
Purwanto, Yadi, 2001, makalah: Manajemen PT. Cendekia Informatika, Jakarta
W. Brown steven, 1998, manajemen kepemipinan, Jakarta: Profesional Books
Tidak ada komentar:
Posting Komentar